Dalam sesi pertama, Budi Santoso menekankan pentingnya menghadirkan pembelajaran matematika yang hidup dan bermakna. Beliau mengajak guru untuk berani menggeser pola pembelajaran dari yang kaku menuju pembelajaran berbasis permainan (game-based learning). Menurutnya, permainan bukan sekadar hiburan, tetapi sarana efektif untuk membangun keterlibatan, fokus, dan kegembiraan belajar siswa. Setiap pencapaian siswa perlu diapresiasi melalui reward sederhana agar tumbuh rasa percaya diri dan motivasi internal.
Lebih lanjut, Budi Santoso menegaskan bahwa guru matematika harus terus update dan adaptif. Perubahan karakter generasi dan perkembangan teknologi menuntut guru untuk kreatif dalam merancang pembelajaran. Salah satu contoh konkret yang diperkenalkan adalah Indonesian Olympiad Battle (IOB), yang diposisikan sebagai serious game. IOB memuat unsur level, target, tantangan, dan reward yang secara tidak langsung menumbuhkan kecintaan siswa terhadap matematika.
Dalam penguatan konsep, pembelajaran matematika idealnya disajikan melalui tahapan yang jelas, dimulai dari pengalaman konkret, dilanjutkan dengan gambar atau objek, hingga akhirnya menuju pemahaman abstrak. Dengan cara ini, konsep tidak lagi terasa jauh dan menakutkan bagi siswa. Di atas semua itu, guru diingatkan untuk terus menanamkan kemampuan critical thinking, agar matematika benar-benar melatih nalar dan daya analisis peserta didik.
Sesi berikutnya diisi oleh Prof. Dr. Soeharjupri yang memberikan suntikan motivasi dan inspirasi mendalam bagi guru matematika. Beliau mengingatkan bahwa seorang guru harus memiliki mimpi besar dan open mindset agar tidak terjebak pada rutinitas semata. Proses mengajar seharusnya selalu diawali dengan doa, karena di dalamnya terdapat amanah besar untuk membentuk masa depan generasi.
Nilai-nilai kehidupan menjadi penekanan utama dalam sesi ini. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai melalui keteladanan. Prinsip Asih, Asuh, dan Asah menjadi fondasi dalam mendidik, sementara filosofi To Give to Get mengajarkan bahwa keikhlasan dalam memberi akan menghadirkan makna yang lebih dalam. Latihan yang dilakukan secara berulang, konsisten, dan penuh kesadaran diyakini mampu menguatkan kompetensi guru maupun siswa.
Prof. Soeharjupri juga mengajak peserta untuk berdamai dengan waktu: meninggalkan masa lalu yang membebani (Yesterday), melakukan yang terbaik hari ini (Today), serta memimpikan dan mendoakan masa depan (Tomorrow). Guru perlu berani move on dari pikiran negatif dan memfungsikan dirinya agar benar-benar memberi manfaat. Dalam perjalanan mendidik, kegagalan adalah keniscayaan, namun tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Justru dari kegagalan itulah pembelajaran sejati lahir.
Peserta didik, menurut beliau, perlu diarahkan sesuai dengan passion-nya masing-masing. Tugas guru adalah mendampingi dengan konsistensi, komitmen, komunikasi yang baik, keberlanjutan, dan rasa percaya diri. Semua itu dirangkai dalam niat yang lurus, usaha yang sungguh-sungguh, doa yang terus dipanjatkan, dan tawakal yang menenangkan.
Forum Guru Matematika Jawa Timur akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan peningkatan kompetensi. Pertemuan ini menjelma menjadi ruang refleksi tentang makna menjadi guru: terus belajar, terus memberi, dan terus menyalakan harapan melalui pendidikan yang bermakna.







0 komentar:
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan menerapkan 5B (Berbagi Belajar dengan Baik dan Benar dan Bermanfaat) Terimakasih.